Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

KOPERASI ITU CINTA

Oleh: Agust G Thuru Koperasi itu kumpulan cinta Direkatkan oleh cinta Dilahirkan oleh cinta Dibangun karena ada cinta Bertumbuh karena cinta   Yah, koperasi itu cinta Yang terus mengalir dari setiap hati Dibagikan oleh beribu jiwa Tumbuh mekar bagai mawar saron Pada setiap orang yang memiliki cinta   Pada hati sesama yang memiliki cinta Koperasi bertumbuh seperti padi di sawah Yang tak terasa menghasilkan bulir-bulirnya Menjadi tuaian berlimpah bagi para pemiliknya   Jika koperasi bukan kumpulan cinta Akan ada banyak hati yang beku Sengaja membiarkan cinta mati Membunuh banyak hati Menjadi layu tak berkembang Bahkan menemui ajal: Kematian!   Jika koperasi mengkhianati cinta Maka cinta akan tawar Jika cinta mengkhianati koperasi Ia akan menjadi virus yang merusak Kehilangan Rahmat berbelas kasih Membantai cinta sejati dan hilang semangat berbagi    Jika cinta terus mengalir dari setia...

SUATU MALAM DI KAKI SALIB-MU

Malam ini hening dan aku merasa ada dalam dekap-Mu Ya Tuhan Kurasakan tangan-Mu membelai rambutku dengan penuh kelembutan Terasa aroma nafas-Mu seperti harum setanggi melati putih Aku sujud di kaki salib-Mu dengan cucuran keringat penyesalan Atas dosa-dosa yang menyangkal rahmat dan kasih karunia-Mu padaku   Malam segenggam doa pertobatan Mengalir dari kedalamam batinku Mendesah dalam katup jiwa yang menyerah pada-Mu Oh Tuhanku hapuskan dosaku dengan bilur-bilur derita-Mu Puaskan dahagaku dengan tetes-tetes darahmu Sembuhkan luka hatiku dengan luka-luka tubuh-Mu   Aku merangkul malam yang semakin merangkak larut mendekat subuh Bulan di langit akan segera tenggelam Dan matahari akan menjelajahi bumi Aku akan kembali ke kehidupan nyata Jalan-jalan yang akan kulalui seperti hari kemarin Menawarkan kenikmatan yang menyilaukan mata hati Tuhan jangan biarkan aku terperangkap dalam ketakberadayaan Sebab aku ini hamba-Mu yang ...

PELAYAN

Oleh: Agust G Thuru Pelayan itu satu orang untuk lain orang Tidak harus memberi apa pun darimu untuk melengkapi dirinya Tanpa perlu menyerahkan kepunyaanmu untuk melengkapi diriku   Pelayan itu tidak semata membagi harta Bukan untuk saling melengkapi kekayaan Pelayan itu bukan semata membagi-bagi materi Bukan semata memenuhi kebutuhan jasmaniah   Pelayan itu aku maupun engkau Tak perduli engkau lebih kaya atau aku lebih miskin Pelayan itu kita dalam segala situasi Tak perduli lebih besar atau lebih kecil   Pelayan itu semua yang berkehendak baik Seperti sungai tiada kering membagi segarnya air Mengalirkan Rahmat belaskasih berlimpah Tiada pernah berhenti untuk saling mengasihi Lt. 3 Puskopdit BAG, 29 Maret 2019

PADA CAHAYA LILIN

Oleh: Agust G Thuru Malam gemuruh nafas di kaki gantang Pada Cahaya Lilin membungkus jiwaku Wajah-Mu terlukis penuh bercak darah Dan luka sobekan oleh cemetih keculasan Senyum-Mu menembus luka-lukaku   Engkau mengulurkan tangan untuk membasuhku Bersabda: Tahirlah! Desah nafas-Mu adalah Roh yang tercurah dari langit surgawi Dan pada cahaya lilin aku menangkap derita-Mu Ada catatan: Pengorbanan untukmu! Dari tetes-tetes darah yang menyembuhkan   Malam menikam seribu rasa dosa Balada hidup yang belum sampai ke tepi Aku menaruh jiwaku pada cahaya kekudusan-Mu Dan berserah: Ini aku hapuskan dosaku! Pada cahaya lilin ada potret wajah-Mu Yang penuh pengampunan Denpasar, Malam sebelum 29 Maret 2019.

ANTARA CALEG DAN PARTAINYA

Suatu hari seorang calon pemilih menyatakan rasa kecewanya karena pilihan politik CALEG yang didukungnya tak sesuai dengan keinginannya. "Saya kecewa dengan pilihan politik Caleg karena berseberangan dengan keinginan saya. Jadi dengan berat hati saya tidak memilihnya", ujarnya.   Saya coba menggali apa alasannya. Ia mengatakan pilihan kendaraan politik dari caleg tersebut tidak sesuai keinginannya. Soalnya partai politik caleg itu berseberangan dengan Capres dukungannya: Joko Widodo.   Saya pun berusaha menjelaskannya. Bahwa yang dia pilih adalah Caleg bukan partai. Yang akan menjadi wakil adalah CALEG itu bukan PARPOL. Sebab partai cuma kendaraan yang membawa caleg ke tempat tujuan.    Seandainya Pileg dan Pilpres diselenggarakan berbeda hari seperti yang lalu-lalu, mungkin pertimbangan untuk tidak memilih CALEG yang diusung parpol yang tak simpatik bisa dipahami. Sebab jumlah suara parpol menentukan dukungan terhadap ...

YOSEPH YULIUS DIAZ (YYDIAZ) SELALU HADIR DI MANA SAJA

Jauh hari sebelum 17 April 2019 saat Pileg Pilpres saya sudah memutuskan pilihan. Untuk DPRD Provinsi Bali saya memutuskan memilih YOSEPH YULIUS DIAZ. Dan untuk Pilpres saya memilih JOKO WIDODO - MA'ARUF AMIN.    Saya punya pertimbangan mengapa memilih YOSEPH YULIUS DIAZ. Secara pribadi saya sudah mengenal YYDIAZ sejak tahun 2000 silam. Saya dekat dengannya. Tapi ini mungkin hubungan personal. Tapi sosok YYDIAZ yang saya kenal itu bisa ada di mana-mana, lintas batas, lintas sekat, lintas agama, lintas etnis, lintas suku dan golongan, lintas kelompok. Dia sosok yang elastis dan adaptatif. Sosok seperti inilah yang bisa diandalkan untuk menjadi wakil rakyat. Sebagai sesama umat beragama katolik saya mengenalnya sebagai satu paroki di Paroki St. Yoseph. Saat saya mengenalnya tahun 2000 silam ia sudah aktif di paroki. Ia aktif di organisasi gerejawi mulai dari lingkungan, paroki sampai keuskupan. Jadi secara internal gereja YYDIAZ pantas menjad...

SI DUNGU

Oleh: Agust G Thuru Si Dungu itu cahaya yang mati Meski seperti kobaran api menyala dan membakar dengan ganas Seperti bara yang membara tetapi tak bersinar cemerlang Menghanguskan tapi mematikan diri sendiri Si Dungu itu api unggun dari potongan-potongan tubuhnya sendiri Yang meskipun hidup tetapi ia telah mati rasa Terus menebar bau asap penuh kebohongan   Si dungu berteriak tentang kebenaran tanpa sadar ia sedang telanjang Merasa duduk di tahta dan mabuk pujian Dari tikus-tikus yang menyanjungnya dan menggiringnya ke perangkap   Sebentar lagi pesta akan usai dan si dungu akan ditinggalkan Kehilangan panggung penuh kemegahan Dan ia akan kesepian tanpa tepi waktu Lalu mati dengan mewariskan catatan lucu-lucu tentang kedunguannya Denpasar, 27 Maret 2019

ANGIN

Oleh Agust G Thuru   Terus berhembus menyibak daun-daun kemunafikan Agar meranggas dan masuk ke liang lahat Terkubur abadi pada sepanjang waktunya Lalu pohon damai kekal selamanya Biarkan angin menyapu bersih Daun-daun yang layu tak berguna Agar dengan kuasa alam Terpisahkan dari keindahan Sebab yang sudah kotor menjijikkan Biarkan angin bertiup dari segala penjuru Mencabut akar benalu yang hanya menumpang hidup Mengisap sari pada pohon buah kebenaran Agar tidak ada kemandulan   Biarkan angin yang menyejukkan Kumpulan hidup yang tiada lelah mengabdi Meski selalu berhadapan dengan para laskar Yang selalu teriak perang melawan kebenaran   Angin Berhembuslah terus Terbangkan kemunafikan ke liang kematian Agar yang tertinggal adalah pesona Dan kedamaian kekal abadi Denpasar, 27 Maret 2019

NYEPI

Sudah dini hari ini Mari menyongsong matahari Sebab setelah lelah dalam ziarah Kita menyongsong jalan tapa Dalam dekap kesunyian Tanpa api cemburu Tanpa api kemarahan Tanpa api dendam   Malam akan berlalu Bila matahari datang menyapa Kita akan menyusuri jalan nyepi Bersama matahari dan angin Menyusuri lorong batin Menemukan luka-luka Untuk disembuhkan   Ini nyepi kita bersama Saat menemukan kelemahan Untuk kita ganti dengan kebajikan Membangun satu rumah yang damai Tempat kita semaikan cinta Agar tumbuh persaudaraan sejati Tanpa saling melukai Denpasar Nyepi 2019

ANJING

Anjing-anjing menyalak memekakkan gendang telinga Pada piring-piring daging yang telah disediakan untuknya Menggonggong sambil mendengus mengeluarkan busa dari mulutnya Menyeringai menunjukkan taring-taringnya Dan ingin menyerang siapa saja yang melawannya   Lalu para pecinta anjing pun ikut menyalak sambil mendelikkan mata amarah Berteriak: Lihat anjing-anjing ini kelaparan Karena susah mendapatkan sepotong daging untuk mengganjal perutnya Katanya: Mereka sekarat karena susah mendapat makan Sambil menyaksikan anjing-anjing itu melahap daging Yang disediakan oleh yang mereka gonggongi   Anjing-anjing menggonggong sepanjang masa perburuan Sambil meludeskan  daging penuh piring Tetapi para pecinta anjing pun makin galak teriak-teriak seperti gila Memaki-maki seperti sedang kerasukan Berteriak-teriak: Mereka lapar! Mereka lapar! Sambil melahap dengan nikmat Buah keringat dan ketulusan orang baik yang mereka gonggongi Aku cuma merasa an...

TENTANG PURNAMA YANG MENANGIS

Aku melihat bulan purnama bertengger di langit senja Bersimbah air mata dalam ratapan menjelang malam Menyaksikan berjuta tangan saling mendera Saling menusuk dengan mata tombak tumpul Tanpa melukai tapi saling menyakiti   Aku memanggil bulan purnama Dari datar bumi yang berbalutkan duka meski tanpa darah Mengapa menangis purnama berwajah keadilan? Ia bisu saja tetapi aku dapat menangkap isi hatinya Ia merintih: Bumimu telah ditabur racun saling berkhianat Telah hilang sopan santun dan keadaban   Aku memandang wajah bulan purnama Memancar cahaya damai dan teduh pada seisi jagat raya Tapi air matanya bagai hujan luruh tiada henti Ia seolah sedang menyemooh kebodohan dan kedegilan anak manusia Yang membiarkan diri terperangkap pada jerat-jerat menggapai kekuasaan Dengan saling melukai meski tidak saling mematikan Denpasar, 25 Maret 2019

AIR MATA SENTANI

Di lembah Sentani Perempuan meratap azab Lelaki kehilangan segalanya Harta dan cinta Jiwa dan raga    Air gunung meradang Lumpur bebatuan mengamuk Hutan kehilangan keramahan Adakah berbalas dendammu Pada keculasan manusia?   Di lembah Sentani Dinding bukit mencair Tersumbat mencari jalan Terhalang menemukan muara Dan kematian taruhannya   Oh alam musim basah Mengapa mendera tanah warisan? Biarkan kami rebah di cinta-Mu Berserah atas kuasa Pasrah dalam kalut doa Denpasar, 20 Maret 2019

TENTANG NAMAMU

Tentang namamu Aku telah menulis di wajah bulan Agar setiap upacara tilem Aku dapat memastikan Kita masih tetap bercinta   Namamu pengusir kesepian Aku telah lekatkan di wajah rembulan Agar setiap upacara purnama Aku dapat semakin yakin Kita tak bisa terpisahkan   Tentang namamu Aku telah abadikan menjadi mantra Agar setiap kali ada upacara Aku dapat membisikan rindu Yang sampai kini belum berakhir   Agust G Thuru Denpasar, 16 Maret 2019

JEJAK YANG KEKAL

Engkau pernah menuliskan jejak Di tanah air leluhur Kekal dalam sejarah Dikenang setiap perhelatan Diratapi perempuan-perempuan penyusu Kau sudah lupa?   Pertiwi pernah kau jadikan kanvas Yang kau ubah menjadi hitam Tempat melukis kekuatan dan kuasa Dengan darah anak-anak bangsa Dan air mata ibu belum kering Meratap anak-anaknya yang hilang   Jejakmu di tanah leluhur Adalah jejak bercak darah anak bangsa Yang pernah kau singkirkan dengan paksa Sebab teriakan hati nuraninya Saat mereka turun ke jalan ibukota Membuatmu mabuk dan setengah gila   Jejak yang engkau lukis akan tetap kekal Sekalipun matahari kau jadikan mahkota Dan bulan kau jadikan tahta Biarpun engkau telah berganti wajah Tapi sejuta perempuan masih berduka Mengenal siapa penumpah darah anak-anaknya   Jejak yang engkau toreh di bumi pertiwi Akan tetap kekal dan dikenang Bahkan ketika engkau ada di singgasana Atau setelah baring di liang lahat Seb...

KEMBALI KE RUMAH

Aku harus kembali ke rumah Setelah lelah mengitari duniamu Angin mencumbu buas Cambuk menghujam jiwaku Ah, tak kutemukan minuman hangat Karena semua kata terlalu tajam Merajam orang-orang tak bersalah   Aku muak pada seluruh keangkuhan Entah kau timba dari budaya mana Kau pun lupa menengok bulan Yang mencibirmu hampir tak henti Dan hentakkan langit Sesungguhnya ingin menggulungmu Sampai ke liang lahat Dan kau pun kiamat   Aku harus kembali ke rumah Tempat ibu mengajarku dengan tepat Tentang cinta tanpa sekat-sekat Ibu yang memberiku keyakinan Tentang cinta seluas dunia Maaf, bumi yang kau tawarkan Tak punya roh kemanusiaan Aku tak mau memangsa atau dimangsa Canggu, 10 Maret 2019

TETAP TEGAR

Seperti tegarnya gunung di ubun-ubun kampungku Aku ingin tak seorang pun menggoyahkan jiwaku Biarpun  sejuta badai menggempurku Aku tegar seperti dinding bumi Tak akan roboh dan hilang musnah Jiwaku batu gunung Yang mengalir dari rahim ibu Hatiku batu kali yang melesat dari rongga cinta Tubuhku batu pantai yang  terbentuk oleh kuatnya pengharapan Aku akan ada tanpa tergoyahkan Aku akan tegap berdiri di bumi Tegar seperti lontar tua di gerbang kampung Sederhana tanpa berkelimpahan Tapi membagikan madu manis Dari mayang-mayang mekar Agar selalu ada catatan penutup Yang menghelakan napas Dan meneteskan butir-butir rindu Denpasar, 5 Maret 2019

AKU DEBU

Pada debu  aku tercipta Dari tangan-Mu Yang Kuasa semesta Menyusun remah-remah tanah liat Meniupkan Roh Kehidupan Menjadilah aku citra-Mu Aku tumbuh dan menjadi diriku Berziarah di tengah kefanaan Menyata dalam keseharian Masuk ke remang-remang kegelapan Berkubang dalam kolam kedosaan Jiwaku sering merana ya Tuhanku Ada saat aku dekat pada-Mu Di waktu lain aku terbang menjauh Meninggalkan kemah-Mu Membiarkan cinta-Mu hilang dariku Tuhan, aku ini debu Tercipta dari genggam tangan-Mu Aku ini citra-Mu Terbentuk dari  kemahakuasaan-Mu Karena cinta-Mu tiada berbatas Pada debu aku taburkan niat Agar tumbuh hati penuh tobat Berjuang melawan godaan Agar selalu  ada dalam rangkulan-Mu Dan aku damai bersama-Mu Agust G Thuru Gereja Kepundung Rabu Abu 2018 Untuk Permenungan Menuju Esok 6 Maret 2019

MULUT DAN HATI

Tuhan, suara-Mu hari minggu ini Sungguh membuat merinding Yang Engkau ucapkan dua ribu tahun lalu Hari ini masih menjadi tanda jaman Suara-Mu sungguh menyata Di tengah dunia Yang dikotori dengan kebohongan Dan kemunafikan    Engkau katakan: Yang diucapkan mulut meluap dari hati Itu kenyataan di jaman-Mu Dan belum selesai di jamanku Kami telah membangun ketidakadaban Menggunakan mulut yang Engkau titipkan Untuk saling menghujat Saling merendahkan harkat dan martabat   Tuhan ya Tuhan.... Engkau beri kami sekeping mulut Dan karuniakan kami sebuah hati Untuk tujuan luhur Mewartakan kabar baik kepada dunia Agar menebarkan kata-kata cinta Untuk mengalirkan belaskasih Dan menjadi mata air yang segar Guna saling melepaskan dahaga   Namun Engkau sendiri telah melihat Bagaimana beribu mulut latah Menjadi mata pisau yang tajam Melahirkan kata-kata saling mengiris hati Saling pandang penuh cemooh Saling pagut penuh permus...

SAMPAH

Berapa ribu air liur telah ditumpahkan Memercik jijik pada tumpukan sampah Sambil teriak: Sampah brengsek! Tak pernah lelah membau kota Warga kota pun ikut teriak Stop buang sampah!   Tapi yang teriak itu Dia juga produksi sampah Dari supermarket hingga dapur rumah Yang enggan jalan ke tempat buang sampah Lebih mudah lego saja di sungai Agar terarung ke muara   Sungai kita penuh sampah Pantai kita penuh sampah Air sungai kita tercemar Laut kita kotor Ikan-ikan makan sampah Lalu ditangkap dan dijual di super market Untuk hidangan lezat   Sampah jadi ancanan Semua orang sadar Tapi enggan mengolah sampah Agar terbebas dari prahara Kita sudah tak punya hati Yang bersentuhan dengan alam Kita berteriak: Sampah berbahaya! Sambil berpangku tangan sampai mati. Agust G Thuru Warung Tresno, 2 Maret 2019

MENEMUKAN YANG HILANG

Telah hilang di kelam sunyi Madah jiwa yang disanjung-sanjung Akhirnya kita sama-sama berkhianat Pada perjanjian suci Yang kita tulis bersama Pada wajah bulan percintaan    Kita akhirnya cuma bisa mengenang Bahasa damai yang kita pahatkan Pada tiang-tiang batu di kampung leluhur Walau mungkin akan tetap diwariskan Tetapi generasinya akan membaca Bercak darah perseteruan Mereka akan berteriak:Bajingan! Sebab yang kita wariskan Adalah luka-luka kemanusiaan   Telah hilang roh keadaban Pada musim pesta pengantin Birahi fanatisme menggempur liar Menenggelamkan perahu para penumpang Yang sedang berlayar sambil berdoa Minta hujan rahmat dari pintu langit Agar luka-luka tersembuhkan   Telah hilang air mata cinta Berganti tetes darah yang tumpah sia-sia Kertak gigi bercampur ludah kebencian Telah menjadi bendera hitam Berkibar di langit biru Pada musim kematian hasrat dan akal    Kapan kita berbenah dan kembali...