Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

TAK AKAN ROBOH

Oleh: Agust G Thuru Seribu mulut menjadi sembilu Lalu saling mengiris dan melukai Luka ini terasa ngilu Meneteskan air mata Menitikkan keringat lelah   Ada yang tertawa sampai mabuk Menari meliuk di sangkar sempit Menepuk dada: Aku pahlawan! Dan mengaku negarawan Dalam ikatan temali kepalsuan   Doa-doa dan sumpah serapah Beralaskan kitab Kudus Mengundang Tuhan Untuk menenggak anggur kecurangan Agar ikut menjadi pemabuk   Sungguh aneh pesta ini Telah hilang jalan waras Sedang yang waras terus berdoa Agar fundasi nurani bangsa Tak akan roboh oleh kebodohan Denpasar, 29 April 2019

TIDURLAH DI LUKA LAMBUNG-NYA

Oleh: Agust G Thuru Liang lahat telah kami timbun Tempat kamu berbaring abadi Pusara telah menjadi bukit kecil Tempat kamu tidur kekal Menanti hari terakhir Untuk bangkit bersama-Nya   Ceceran darah kamu di Gereja itu Telah mengering dalam kebisuan Tapi sejarah sudah mencatat Detik-detik kamu meregang nyawa Ketika ledakan bom pemusnah Tak mungkin kamu tangkal Dengan daya kemanusiaanmu   Untaian doa di detik terakhir Adalah air pembaptisan yang membasuhmu Menghapus segala dosa dan kelemahanmu Dan Tuhan yang kamu sembah di Minggu Paskah Menjemput kamu semua Dan menjadikan luka lambung-Nya Tempat berdiammu yang penuh kedamaian   Tidurlah saudara-saudariku Tidurlah dalam Timangan Tuhanmu Biarkan kami menutup liang lahatmu Agar daging dan tulang belulangmu Kembali menyatu dengan bumi negerimu Tanah air Srilanka yang engkau cintai Dan pada gundukan pusaramu Kami tancapkan salib kemenangan   Tidurlah abadi Di luka lamb...

DARAH-MU DI MINGGU PASKAH

Oleh: Agust G Thuru Jika jumad agung darah-Mu tertumpah di Bukit Tengkorak Itu darah penebusan yang mengaliri hati yang gersang Seperti oase yang tak pernah kering di padang gurun Meskipun kebencian pada-Mu tak pernah berakhir   Jika Minggu pagi makam-Mu kosong Dan perempuan-perempuan menangis di liang kubur-Mu Para malaikat membaca puisi tentang kebangkitan-Mu Meredakan berita kebohongan jenasah-Mu digarong   Di Minggu pagi itu ya Tuhan Di saat dunia merayakan Engkau bangkit Di saat sama bau mesiu menyambut-Mu Ledakan bom merobek tubuh-Mu Darah-Mu dan darah hamba-hamba yang sujud berdoa Menyatu dalam duka duniawi Menjadi prahara kejahatan kemanusiaan   Minggu paskah Engkau ada di Gereja ratusan umat-Mu Di kota Colombo mengidungkan syair tentang kebangkitan-Mu Setelah itu Engkau dan tubuh para hamba-Mu remuk oleh kebengisan mereka yang hatinya telah mati   Tuhanku aku percaya Darah-Mu di Minggu paskah Menyatu d...

PADA JUMAT AGUNG

Oleh: Agust G Thuru Pada Jumat agung-Mu Darah penebusan tercurahkan Adakah pertobatanku kekal Atau hanya kemunafikan Dan esok aku kembali Menikam lambung-Mu?   Doa tobat pada rentang upacara Telah kutulis di setiap urat nadi Nada tangis dan ratapan Telah kulekatkan pada urat lidah Mungkinkah tak akan ada lagi Teriakan: Salibkan Dia?   Tuhan aku rapuh Sekalipun ada di genggam-Mu Dan aku lemah Sekalipun ada di cinta-Mu Namun kutahu darah penebusan-Mu Tetap menyiram jiwaku Denpasar, 19 April 2019

CATATAN SETELAH PILPRES

Oleh: Agust G Thuru Setelah Pilpres kucatat bercak liurmu Yang menebar bau busuk Pada tanah air ini Engkau seperti hendak menabur benih kedengkian Dan mengharapkan bara kebencian Menghanguskan rasa kemanusiaan   Engkau mengaduk-aduk nurani Anak negeri yang telah lelah Dan mabuk oleh pesta penuh kebohongan Mengharapkan teriakan mereka yang berpihak: Pesta penuh kecurangan! Dan engkau pun menarik pelatuk penuh kelicikan Agar pesta bisa diulang lagi Denpasar, 18 April 2019

JANGAN KORUPSI

Mungkin ini yang terakhir Aku turut menikmati jamuan Sebab perjalanan sudah ada yang mengatur Jika di perjamuan 2024 aku masih sempat menikmati Itu atas kehendak Yang Kuasa Tapi hari ini aku telah memilihmu Kuharap kalian semua Tidak mengkhianati hati nuraniku "Jangan korupsi" Denpasar, 17 April 2019

SATUKAN ROH LELUHUR DI KAMPUNGKU

(Percakapan Imajiner Dengan Leluhurku) Aku gerah bertahta di rumah adat Yang engkau bangun dengan jiwa yang tidak tulus Meski telah ditanda tabuhan adat gong gendang Dengan korbankan ratusan hewan Darah babi dan kerbau tak membuat leluhurmu dipuaskan Sebab rumah adat yang engkau dirikan Bukan istana tempat leluhurmu bersemayam   Apa salahku leluhur-leluhur? Aku sudah membangun rumah adat kokoh dan megah Tiang-tiang batu alam telah kuganti dengan tiang-tiang beton yang lebih kokoh Dinding-dinding papan telah kuganti dengan batu bata Atap alang-alang telah kuganti dengan bilah baja Rumah tempat leluhur bersemayam lebih megah dan mewah   Dari turun temurun leluhurmu mewariskan petuah Kamu harus tetap bergerak maju seturut waktu Terus mengalir seturut perubahan jaman Tetap hidup seturut tuntutan peradaban Tetapi yang leluhurmu pinta Biarkan istana para leluhurmu kokoh Seperti saat jemari tangan para leluhurmu merajutnya   Apa ya...

ENGKAU DAN AKU

Oleh: Agust G Thuru (Untuk sahabatku: Drs. Made Suantina,M.Si) Malam gerimis ini jatuh dari langit Terhempas di latar pulau kita Kawan, gumpal duka terobos menikam pada sukma Menghela nafas perpisahan abadi Antara engkau dan aku   Senyummu masih tertinggal Tetap tertanam di liang sanubariku Bianglala nuranimu yang pernah kutimba Mungkin tak akan pernah terhapus Telah menjadi warisan untuk dikenang terus   Jika malam ini engkau pulang Semua kebersamaan kita tetap tinggal Dan sumur tempat kami menimba air kebijaksanaan Telah engkau bawa terbang ke nirwana Seribu jiwa akan merindumu saat musim kemarau   Pergilah sahabatku Terbanglah sampai ke pelukan Dewa Tangan Sang Hyang Widhi telah terentang Menyambutmu dalam kemewahan surga Tempat kekal dan abadi Denpasar, 14 April 2019

DIAM SAJA

Oleh: Agust G Thuru Lebih baik diam saja Meski burung-burung liar masih membirahi Sambil melahap bangkai yang masih tersisa Setelah panggung berpesta penuh kebohongan Telah dirobohkan    Matahari tersenyum pada langit biru Dan bulan berdendang di malam terakhir Membiarkan pesta hiruk pikuk berakhir Sambil menanti hari yang ditentukan Untuk perjamuan penuh kebebasan    Lebih baik diam saja Sambil mengatup tangan pada dada Menghapus sisa dendam dan kebencian Lalu dengan kalam kemanusiaan Menulis doa penuh pengampunan Pada kedalaman hati penuh peluh percintaan Denpasar, 13 April 2019

PEREMPUAN DI KAMPUNG SUNYI

Oleh: Agust G Thuru Untuk perempuan yang tetap setia Pada dekap sunyi kampung leluhur Tak menghitung waktu yang terus berlari Setia mengumpulkan helai ilalang yang gugur Dari atap rumah adat yang terus menua   Angin menyapu halaman kampung Helai demi helai ilalang terbang Atap rumah adat tersobek jaman Dan perempuan berdoa bersama arwah leluhurnya Menunggu para lelaki pulang dari rantau   Perempuan di kampung sunyi Mendekap malam tanpa cahaya Menunggu bulan terang mencumbunya Dan ia duduk di kuburan leluhur Menginang sambil nenyandungkan rindu Kekasih yang masih di seberang lautan Tak tentu kapan akan pulang   Perempuan menulis harapan pada hatinya Pulanglah lelaki pewaris tahta leluhur Sebab sudah lama janji upacara telah diucapkan Dan leluhur menanti kapan mereka hadir Pada malam perjamuan Denpasar, 12 April 2019

TENTANG KATA YANG KAU UCAPKAN

Oleh: Agust G Thuru Tentang satu kata atau seribu kata yang kau ucapkan Telah mengalir dari bibirmu yang pernah menikmati anggur merah Saat engkau ikut berpesta dalam lingkar kekuasaan tirani Adalah kata tak bertuah dan mati rasa Sudah, jangan berbohong lagi hanya karena engkau sedang dalam usungan Untuk diarak menuju tahta istana   Satu kata atau seribu kata yang engkau orasikan Adalah satu kata atau seribu kata tak bertuah Terbungkus darah anak bangsa yang diculik dan dibantai Tanpa peti mati dan tanpa pusara Tempat pemilik rahim bersiaran dan menabur bunga Dikala mereka rindu menghapus air matanya   Engkau telah sukses sembunyikan luka Ibu Pertiwi Pada rentang sejarah yang engkau kira anak negeri ini sudah melupakan Sekarang engkau yang terus menerus berteriak: Ibu Pertiwi diperkosa! Ah, satu kata atau seribu kata dari mulutmu terasa tak bertuah Sebab pemerkosa ibu Pertiwi adalah kau Yang sengaja lupa bahwa tanganmu masih berlepotan da...

JEJAK DI KAMPUNGKU

Oleh: Agust G Thuru Jejak kaki telah tertulis pada loka nua* para leluhur Di lereng gunung yang entah siapa telah membaptis nama:Inerie!* Di Maghilewa* senandung Teke* membangkitkan rindu Pada mama-mama berbalut aroma sirih pinang Dan bapa-bapa yang menghembus asap rokok daun lontar Malam bulan terang meneguk gemericik tempurung tuak Melahirkan persaudaraan dalam kesehajaan   Di kampung Jere* telah kutulis jejak telapak kecil pada ture nua* Ketika pada masanya kami bertelanjangan Mengejar bola anyaman daun pisang kering Di bawah langit bening tanpa air mata Menikmati dunia penuh persahabatan   Aku membaca jejak-jejak dalam gelora muda Pada butir batu hitam di kampung Watu* Gadis-gadis menaruh senyumnya pada telapak tangan Hingga membekas meski waktu telah mengalir sangat jauh Dan tak mungkin mengembalikan gelora muda seperti saat itu   Di Leke* malam perjumpaan bulan terang Pernah tertulis kisah masa lalu Gadis-gadis bera...

AIR KETUBANMU

Oleh: Agust G Thuru Di Maghilewa aku menyusuri aliran air ketubanmu Telah menjadi belukar menyatu dengan hawa gunung Senyum ibu dari INERIE memanah Aku rebah dalam alunan rindu Ibu aku pulang pada puting susumu Mendaras doa-doa dalam mimpiku Angin sepoi berhembus dari pantai selatan Menebar aroma laut Sawu Menyatu pada ari-ari yang pernah membungkus tubuhku Menebar bau cinta yang melesat Dari rongga rahim perempuan pujaanku Aku rebah di tanah leluhur Mendengar bisikan penuh syahdu Di sini anakku ya disini Pada gulita malam kau menangis kedinginan Dan aku menggigil rindu pada peluhmu Di Maghilewa aku masih punya banyak waktu Menggali potongan-potongan cinta Yang meskipun sudah lama terkuburkan tak pernah musnah Dan air ketuban dari rahimmu Menyuburkan jiwa kelanaku Aku rindu Maghilewa dan ketubanmu yang tak pernah kering Denpasar, 9 Maret 2019

MOKE*

Oleh: Agust G THURU Mana moke, mana itu moke! Agar kutuang pada se'a tua* Kujadikan kolam bening Tempat aku menemukan wajah leluhur Dan mengaca wajahku Sambil bertanya: Masih setiakah aku pada kearifan nenek moyangku? Mana moke, mana itu moke! Akan  kuisi dengan mantra-mantra leluhur Tentang  hidup yang  terus bertumbuh Bertunas seperti  rumpun tebu di Umamoni* Dan mati pun  mewariskan  nama besar Mana moke, mana itu moke! Akan kucampur dengan bau nafas nenek moyangku Agar menjadi minuman persaudaraan Sambil melantunkan ajaran tentang cara hidup yang sempurna Ini moke  yang meniris dari kearifan leluhur Untuk menyempurnakan  semua upacara Tidak untuk dikemas dalam botol berlabel merek dagang Tetapi pada periuk tanah  tempat roh leluhur bersemayam Denpasar, 8 April 2019 Moke = Minuman beralkohol yang diproduksi dari nira lontar. Bagi masyarakat Bajawa adalah salah satu kelengkapan dalam ritual adat. Se'a tua = temp...

SOPHIA

Oleh: Agust G Thuru Sophia mana Sophia! Aku akan menuangkan ke kepala semua anak muda Mengocok otaknya agar darahnya encer Dan mudah ditumpahkan Demi kebebasan dan kemerdekaan Sophia mana Sophia! Aku  akan mencampur dan mengaduk-aduk Pada darah remaja yang masih perawan Agar mereka tumbuh menjadi pemabuk Dan bermimpi bisa masuk surga Sophia mana Sophia! Aku akan  mengubah dunia putih Agar menjadi hitam pekat Lalu dengan darah mereka Aku menulis  tentang generasi yang gagal Batubulan,  6 April 2019

TENTANG TUHAN

Oleh: Agust G Thuru Tuhan itu matahari Yang pada siang hari membagi Rahmat sukacita Kepada semesta tanpa menghitung berapa angka dan untuk siapa Sebab ia perakit semesta dan segala isinya   Tuhan itu malam bertahta pada wajah bulan Pada berjuta kerling mata bintang Menyepuh semesta dengan roh cinta Tanpa menyebut satu persatu nama dan golongan   Tuhan itu bumi dan segala isinya Semesta yang tak pernah pilih kasih Ada dimana-mana dan tak hanya diam di satu rumah ibadat saja Karena Ia ada di segala tempat dan waktu dengan cinta yang sempurna Denpasar, 5 April 2019

AKU DAN SENJA

Oleh: Agust G Thuru Aku menatap senja yang terus menebar senyum sambil melantunkan melodi Tentang saatnya semakin mendekat bagiku untuk pulang Waktu yang terus mengalir dan pasti sampai pada muara Dan ia ingatkan padaku: Berserahlah!   Bukan takdir yang mau atau tidak harus menjalaninya Sebab hukum alam sudah dirancang dan aku tak mungkin mengelak Selain harus menyongsong dan membiarkan kami berpelukan   Aku dan Senja adalah kehidupan dan gerbang yang mesti dilewati Agar terus menyusuri jalan berliku menuju tempat matahari terbenam Lalu senja akan kembali lagi dan aku berdiam di keabadian selamanya Ketewel 4 April 2019

DARAH DARI LUKA-MU

Oleh: Agust G Thuru   Pengadilan sesat di istana Pilatus adalah maut yang harus Engkau tanggung Palu pengadilan tidak adil telah diketuk dan tak bisa ditawar lagi Teriakan salibkan Dia telah menjadi pemenang dan Engkau diam dalam pasrah Serdadu-serdadu pun kerasukan menyiksa-Mu Dalam nafsu pembunuhan yang buas   Salib berat telah disediakan untuk-Mu Engkau harus memanggul seturut ritual yang mereka kehendaki Berjalan menyusuri lorong kota diiringi teriakan histeris kebencian yang meluap-luap Di bawah terik matahari yang memanggang luka-luka sekujur tubuh-Mu Engkaupun jatuh dan serdadu-serdadu menyeret-Mu sambil teriak: Bangun!   Di tepi jalan ibu-Mu menatap dalam duka nestapa yang mendalam Beradu pandang dalam gelora kasih antara ibu dan anaknya Memandang-Mu memanggul salib berat dan melangkah tanpa mendesah putus asa Membiarkan Simon dari Kirene mengambil bagian dari penderitaan-Mu Dan memberi tanda kuasa-Mu saat Ve...

SELAMANYA AKU INDONESIA

(Kepada Pejuang Negeriku) Oleh: Agust G Thuru   Aku melihatmu berdiri di tanah penuh bekas darah Menunjukkan jari ke lekak lekuk bumi Pertiwi Katamu: Di sini darah para pejuang ditumpahkan! Untuk menggapai kebebasan abadi   Nyawa sudah ditanam di persada Telah tumbuh menjadi semangat yang tak terpadamkan Mewariskan roh cinta seluas pulau-pulau nusantara Mengikat semangat dengan janji suci Setia selamanya dan tak pernah tergadaikan   Jiwamu hidup pada setiap jengkal tanah air Membakar nurani anak bangsa untuk cinta tanpa syarat Menjadikan kami berdiri di atas tulang belulangmu Dan berteriak lantang: Aku Indonesia!   Aku menyatu dengan semangatmu yang tak pernah tawar Di atas tanah ini aku bentangkan cinta sejati untuk menjadi tetap satu Pada tanah air yang bhineka dalam keragaman   Aku melihat engkau berdiri di seluruh jengkal pulau-pulau Mengibarkan darah merah gagah berani Menyiram darah putih kesucian...