Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

SENJA MENYULAM BAJAWA

Senja menyulam Bajawa Oleh: Agust G Thuru Senja menyulam Bajawa Yang terbalut kabut Lampu-lampu kota yang muram Menyongsong malam Dalam gemetar napasnya Ini Kota seribu aksara Yang menyimpan jejak telapak Meski waktu terus berlalu Entah ada yang melupakan Karena sejarah tak bisa kembali Senja menyulam kota Pada kabut yang menguap Burung pipit merapat ke ranting bambu Lalu menikam dengan matanya Sambil senandung malam perih Yang masih tersisa Bajawa, 31 Juli 2019

BUNGLON IBU KOTA

Bunglon Ibu Kota Oleh: Agust G Thuru Bunglon-bunglon ibukota itu Kini santun sujud dalam doa cinta Seolah mau menebus dosa Dan menghapus tumpukan kebohongan Yang tercipta dari bibir penuh racun Ingin kembali jadi tulus Menguburkan bangkai busuk Yang pernah ia tebarkan Bunglon ibukota itu Berakrobat meliuk dan menikung Ia terbang dari arena pertarungan panas Ingin bertengger pada daun-daun hijau Yang pernah ia cabik penuh nafsu Dan melumatnya dengan fitnah keji Meneriakinya: kau komunis! Bunglon Ibu Kota itu Pernah meradang ketika kalah suara Meski tanpa malu pun sujud syukur Lalu menabuh genderang perang Mengerahkan manusia berakal pendek Turun memenuhi jalan aspal Sambil berteriak: Tuhan, Tuhan! Beri kami sepotong kemenangan Sebab kami sudah haus kekuasaan Bunglon ibukota itu Kini sudah tak punya rasa malu lagi Ia menjelma menjadi manusia sopan Berwajah tampan vertampang ksatria Ia menguburkan air ludah berbau busuk Lalu menebar pujian kepa...

PADA SENYAP

Pada Senyap Oleh: Agust G Thuru Pada senyap bulan diam Tak ada tarian di kertas putih Menari meliukkan tubuh Melahirkan bulir birahi berpantun Mewarna jagat imajinasi Mungkinkah napas sudah berhenti Berpacu di arena pertarungan? Jari-jari yang kaku Harus belajar lagi menghafal aksara Jiwa yang pulas dalam dekap waktu Harus dibangunkan dengan cermat Sejenak diam pada tepi permenungan Untuk menangkap lagi detak rasa Dan mengasahnya menjadi pena tajam Pada senyap jiwa Menimba butir-butir kata Yang terus berguguran dari langit Menyusunnya menjadi segumpal hati Agar bila tak ada yang bisa dibagikan Kata menjadi harta termahal Untuk diwariskan Denpasar, 26 Juli 2019

HATI YANG KERING

Hati Yang Kering Oleh: Agust G Thuru Pada hati kering saling meluka Seperti tanah berhumus Telah kita biarkan terlantar Hingga hilang yang kita banggakan Kesehajaan dan persaudaraan Kita menjadi ladang tandus Terbakar terik saling mendengki Alunan siulan alam yang memesona Terjebak di lubuk jiwa yang liar Angkuh bertarung merebut kebenaran Hati yang kering melahap garang Menghancurkan rasa kemanusiaan Saling menutup pintu jiwa Dan sengaja tak mau memahami Bahwa di tanah kita ada keragaman Kita mesti kembali bercucur keringat Menggembur tanah warisan Dan menabur benih keadaban Sambil bersekutu dalam doa cinta Agar jiwa bersiram roh persausaraan Denpasar, 23 Juli 2019

AKU INI MARTHA

Aku ini Martha Oleh: Agust G Thuru Tuhan, aku Martha Yang waktu itu sibuk Menyenangkan hati-Mu Ketika Engkau singgah Di kediamanku Aku menyiapkan hidangan Dengan menu yang istimewa Agar saat Engkau nikmati Terlontar pujian dari bibir-Mu Martha, masakanmu enak Dan aku pun dibuat tersipu Ah, ternyata Engkau punya cara lain Memandangku menurut ukuran-Mu Bukan menurut kehendakku Engkau ingin aku seperti Maria Bersimpuh di kaki-Mu Menyedengkan telinga Mendengar titah-Mu Tuhan, aku ini Martha Yang waktu itu sibuk di dapur Membiarkan Engkau berduaan Dengan saudaraku Maria Aku kini tetap sama saja Seperti tempo dulu itu Tetap sibuk dan selalu tak berwaktu Aku Martha di masa kini Sibuk mengurus rumah Dan menemani anak bimbel Sibuk dari hari Minggu ke Minggu Sampai tak ada waktu lagi Sejenak bersimpuh di kaki-Mu Mendengar denting suara-Mu Tuhan, aku ini Martha Yang waktu itu cemburu Melihat-Mu berdua-duaan Dengan saudaraku Maria Membiarkan d...

KEPADA MAS WENDO

Kepada Mas Wendo Oleh: Agust G Thuru Engkau telah memahat kata Pada berjuta jiwa Membangunkan yang pulas Agar saling menyapa Dengan kata Memahat kata bertuah Pada setiap lembar hati Untuk dijadikan amanah Melahirkan benih Dari ujung pena Yang engkau wariskan Engkau telah memahat daya pada setiap jiwa Yang mencari makna kehidupan Bahwa kata adalah akar Yang memberi sari kehidupan Pada mereka yang menekuninya Kemarin engkau tidur Dalam timangan Sang Tuhan Yang engkau jadikan pelita Pergi namun tak pernah mati Sebab kata telah engkau wariskan Untuk tetap menjadi kekal Denpasar, 20 Juli 2019

UNTUKMU

Untukmu Oleh: Agust G Thuru Untukmu sebatang pena kutitipkan Agar engkau menulis tentang cinta Yang pernah menyatu terekat erat Meski kemudian putus oleh waktu Atau mungkin karena takdir Yang Tak kuasa dihindarkan Dan yang dibiarkan sia-sia Untukmu masih ada selembar kertas Yang telah lusuh oleh waktu Ada mantra kekasih yang terus bercinta Yang belum sempat terucapkan Namun yang ia wariskan Mungkin sekedar tanda pengingat Bahwa engkau pernah mencintanya Pada suatu waktu yang pasti kau tahu Untukmu catatan diabadikan Pada seluruh nadi kehidupan Agar ketika waktu terus terbang Melintasi segala jamannya Engkau masih menangkap senyum Yang ia lesatkan dari keabadiannya Dan berharap engkau menitip doa Tanpa titik noda dan kepalsuan Denpasar, 19 Juli 2019

KEKASIH

Kekasih Oleh: Agust G Thuru Kekasih berdiri di kaki bukit Lalu memanah dengan cintanya Ia makin memesona Berbalut gaun dari gumpalan awan Dan pita salju melilit pada kepalanya Meniup seruling perpisahan kekal Kekasih terbang melampaui gunung Mengendarai angin yang terus bertiup Membawanya melingkar keabadian Membentang jalan perpisahan Tak ada jalan pulang ke kampung tua Meski masih ada lagu ratap Yang tak berhenti merindu Kekasih telah sampai waktunya Pergi ke kaki langit Ia membuka gerbang kekekalan Untuk menemukan kehidupan abadi Dan tak akan pulang kepada fana Meskipun ada rindu yang tak padam Dan potongan doa yang terus didaraskan Untuk istirahat kekal baginya Denpasar, 16 Juli 2019

KEMARAU

Kemarau Oleh: Agust G Thuru Perempuan penanak singkong Senandung di tungku berasap Telah datang kemarau Dan setetes air menjadi mahal Sedang air matanya Menjadi tak punya harga Tanah kering di bukit Tanpa tetesan embun Sungai dan waduk Tanpa nyanyian angsa Kembang teratai pun meranggas Dan air mata selaksa rakyat Menjadi pelepas dahaga Perempuan menjunjung periuk tanah Menuruni curam ke dasar lembah Telapak kakinya melukis jejak Dan menahtakan seutas keluhan Yang diwariskan pada setiap musim Tetes keringatnya tak mampu menjelma Menjadi mata air pemuas dahaga Musim kemarau kembali memecut Perempuan penanak umbi hutan Di tungku berasap ia mengatup tangan Mendaraskan litani yang belum terjawab O Dewa langit dan bumi Beri kami mata air yang melimpah Agar kemarau tetap penuh berkat Denpasar, 15 Juli 2019

ANTARA YERUSALEM DAN YERIKO

Antara Yerusalem dan Yerikho Oleh: Agust G Thuru   Di tepi jalan tubuhnya menggigil Dingin menusuk seperti mata tombak Terkapar ia dalam telanjang Bersimbah darah dan bilur duka Dalam diam membisu Dirajam angin dan terik mentari Imam berjubah putih bagai salju Penunggang keledai perkasa Menyusur tapak jalan Antara Yerusalem dan Yerikho Matanya terbuka jelajah kemewahan Membiarkan tubuh sekarat dibelit angin Sambil berteriak: Kau najis! Kemudian hening mendera Jerit derita berlalu sia-sia Tak ada mata hati yang terbuka Sekali pun sang Lewi berjubah kemilau Bersua namun tanpa sejuk sapa Berlalu dalam dekap angkuhnya Sebab jendela hati telah tertutup rapat Matahari pun senyum dalam senyap Angin cinta berhembus gemulai Tapak keledai sang Samaria Melantunkan nada-nada cinta Dan mengulurkan tangannya Pada tubuh hamba yang sekarat Bangunlah! Aku mencintaimu! Antara Yerusalem dan Yerikho Aku belajar bagaimana cara bercinta Cinta sel...

Pada Waktunya

Oleh: Agust G Thuru Pada waktunya Perjalanan akan sampai Pada rahim bumi Tanpa air ketuban Dan tiada air mata Sebab semua sudah berakhir Pada waktunya Tidur panjang dalam lelap Terayun timangan abadi Tak ada bulan malam Dan matahari pun hilang Sebab waktu telah sempurna Menyembunyikan siang dan malam Pada waktunya Seluruh kuasa dilenyapkan Kekayaan ditinggalkan Kemewahan tak bermakna Dan benang yang menutup tubuh Terberai oleh kekuatan kodrati Pulang dengan tubuh telanjang Tanpa perlu merasa malu Denpasar, 13 Juli 2019

CATATAN TENTANG IBU

Oleh: Agust G Thuru (Untuk sahabatku Kristin S)   Catatan tentang ibu Adalah catatan tentang gelora cinta Yang menyimpan banyak teka teki Tumbuh seperti mawar penuh misteri Penyerahan diri yang sukar dipahami Tetapi selalu melahirkan persona Ibu adalah ladang yang digembur Tempat menabur benih Untuk ditumbuhkan oleh waktu Membiarkan rongga jiwanya Menjadi tempat memulai kehidupan Dan menyerahkan rongga rahim Untuk sebuah ciptaan baru Ibu adalah air mata yang tercurah Di saat mesti menahan perih Melintasi jalan tepi jurang Dan ia mengulum senyum seluas dunia Di saat melangkah di tanah datar Sembari memandang buah rahim Dalam timangannya Ibu adalah air susu Yang dialirkan ke urat nadi kekasih Agar tulang menjadi kuat Dan jiwa menjadi matang Ibu adalah samudera luas Yang menyimpan segala perkara Dalam rongga rasa keibuannya Ibu adalah pengiring jalan Mengantar kekasih pada masanya Untuk menjadi diri sendiri Tanpa keluh da...

Di Kaki-Mu Tuhanku

Oleh; Agust G Thuru Di kaki-Mu luka meniriskan darah korban Tiada henti pada setiap jaman Sebab tangan yang memegang palu Menancapkan paku pada kaki-Mu Kini masih berkeliaran Bahkan berseru: Tuhan ya Tuhan! Lalu mereka pun membunuh Kejahatan adalah bau bangkai Yang meracun peradaban Sebab nyawa telah digadaikan Untuk memuaskan dahaga Bagi mereka yang terus berpesta Dengan minuman darah Sebagai pengganti anggur Di kaki-Mu luka meniris darah penyelamat Terus mengalir setiap rentang jaman Tiada berhenti meski bumi kemarau Sebab darah-Mu mengalir pasti Pada jiwa-jiwa yang setia Memeluk dunia yang penuh luka Dan tiada berhenti untuk menyembuhkan Karena Engkau tak berhenti bekerja Tuhan ya Tuhan! Kubasuh wajah dalam tirisan darah-Mu Membenam tubuh dalam liang luka-Mu Meletakkan jiwa pada luka lambung-Mu Sebab aku tahu hanya pada-Mu Kutimba air penghapusan dosa Dan pada luka-Mu darah keselamatan Tak pernah berhenti dibagikan Di kaki-Mu ak...

Catatan Sepanjang Jejak

Oleh: Agust G Thuru Di Batulumbung misteri itu tertulis Anak yang dibuang dan dipungut Tumbuh dalam timangan air baptisan Mekar dalam asuhan roh Tuhan Hidup dalam rotasi bulan dan matahari Memahat kisah dari waktu ke waktu Dan ayunan timangan sang ibunda Akhirnya harus ia tinggalkan   Ibu, bolehkah aku menjadi benih Untuk disemai di ladang garapan Agar tumbuh menjadi diri sendiri Yang tiba pada suatu ketika Dengan jiwa besar penuh keberanian Menjawab: Ya, ini aku utuslah aku!   Sang perempuan menarik nafas Ia diam meresap segala pinta ananda Menatap wajah putra tersayang Tanpa tetesan butir air mata Ada hentakan pedih perih ibunda Pada bayang-bayang perpisahan Sebab perjalanan yang ditawarkan Adalah mengarungi lautan yang ganas Pergi ke tanah seberang Jauh dari pelukan jiwa dan raga   Ibu memahat doa dalam meditasi Menemukan jawaban untuk ananda Pergilah, pergilah anakku! Sebab jika gema panggilan Telah menyus...

Tentang Berbagi

Oleh: Agust G Thuru Tentang bagaimana berbagi Aku mencatat seutas makna Dan sederet nama menyejarah Yang mewariskan cara saling mencinta Dengan cara pandang kemanusiaan Tanpa warna saling merendahkan   Bahwa berbagi itu Bukan memberi dan menerima Sebab hanya memberi saja Melahirkan benih keangkuhan Dan hanya menerima saja Melahirkan hati yang terluka   Berbagi itu bersama memberi yang ada Untuk saling menerima pada waktunya Tanpa saling menyombong harga diri Dan saling merendahkan harkat Berbagi itu mendirikan rumah bersama Agar kehidupan tetap bermartabat   Berbagi itu memberi tanpa kehilangan Menerima tanpa merasa direndahkan Saling memberi dan saling menerima Dengan ikatan batin yang kental Pada komunitas penuh persaudaraan Dalam wadah perjanjian saling setia Yang terbaptis bernama Credit Union Denpasar, 5 Juli 2019

Hatimu Pada Sunyimu

Oleh: Agust G Thuru Pada hidup bertudung sunyi Bumi ini bisu untukmu Lidahmu kemah yang tak kelu Bibirmu oase yang tetap bertuah Dan hatimu lentera yang bernyala Tak pernah padam sepanjang usiamu   Lidahmu jemari-jemari lentur Bibirmu sejuta bahasa isyarat Mata bening memancar berjuta aksara Mengalirkan pesan-pesan kemanusiaan Dalam Sunyimu Siang dan malam yang bisu Engkau hidup dalam pesona   Jika hari ini aku menatapmu Sesungguhnya sejuta kata Telah lahir dari kebisuanmu Tubuh yang berbalut rahmat Dan jiwa yang berjubah Iman Engkau sama saja dengan sesama Yang setia mendengar detak jiwamu Dan tetap mengagumimu Gianyar, 3 Juli 2019 Untuk Sahabatku Bisu Tuli  di Yayasan Kesayang Ikang Papa

Kita Itu Satu Kumpulan

Oleh: Agust G Thuru Kita Itu satu kumpulan pesiarah Bersama menumpang kapal jaman Berlayar megarungi samudera Menantang badai dan gelombang Sebab ada yang harus kita gapai Hidup dalam bingkai persatuan Dan kesatuan   Kekuatan kita adalah cita-cita Yang mesti kita raih bersama Kau tak bisa berjuang sendiri Sebab tanah warisan seluas jiwa Dan kita harus bersatu Menggarap sawah ladang dengan ramah Agar memberi rahmat yang berkeadilan   Kita harus mencungkil kemunafikan Membakar pada gundukan bara panas Agar musnah tak lagi tersisa Lalu di tanah kita tumbuh benih keadilan Dan kita dapat bercanda gurau Dalam keberagaman yang kita punyai   Kita ini satu kumpulan rasa kemanusiaan Mengalir bagai air dari liang yang sama Untuk saling melepaskan dahaga Engkau tak bisa berlari sendirian Pada lekak lekuk tanah warisan leluhur Sama seperti aku pun tak berdaya Tanpa engkau bersanding bersamaku Pada setiap lentur langkah persiara...