Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

2122 MEI

Oleh: Agust G Thuru Darah itu mengalir di 2122 Mei Di tanah ibu Pertiwi Darah rakyat Yang hilang sia-sia   Tubuh-tubuh yang terbujur kaku Adalah korban agitator Dari mulut ulat berbulu Yang tiada henti menebar dengki   Anak bangsa yang dikorbankan Sedang para penculas bersembunyi Mencuci tangan yang berlepot darah Sambil berteriak: Tuhan Maha Besar!   Nyawa sudah berjatuhan Para aktor satu persatu minggat Mencari nyaman di luar negeri Sambil berteriak: Aku tak bersalah!   Kamu bajingan! Pecundang! Pengkhianat! Pengecut!   Di negeri ini kami tiada henti Terus berteriak untuk persatuan Sebab Indonesia rumah kami Yang cinta damai Denpasar, 31 Mei 2019

DI ZIARAH INI

Oleh: Agust G Thuru Di Ziarah ini aku lelah Sujud pada kaki bukit tengkorak Tempat Engkau biarkan darah Seperti tetes hujan Luruh dari kayu salib   Akan kucucup bibirku Pada luka lambungMu Meneguk tetes demi tetes kasihMu Sebab telah terwariskan Penebusan dosa oleh darahMu Dan sujud imanku pada korbanMu   Aku ingin menimba Rahmat Dari luka-luka ternganga Di telapak tanganMu Agar segala noda dosa Terhapuskan dengan belas kasih Yang Engkau pancarkan Dari kayu palang penghinaan   Rebah aku pada simpul kakiMu Pada luka bekas paku karat Membiarkan bulir kasihMu Teraduk campur dengan darahMu Lalu aku membasuh wajah Agar kembali berdiam Pada bilik cintaMu   Tuhanku Di Ziarah ini aku lelah Tak berdaya Tetapi tanganMu tongkat kekuatan Menuntunku pulang PadaMu jua. Denpasar, 31 Mei 2019

CATATAN PERUTUSAN

Oleh: Agust G Thuru Suara perutusan itu terus menggaung Pergilah kita diutus Kemana mengayuh langkah?   Ke kaki bukit sunyi Tempat sesama terasingkan Oleh suhu waktu yang tak bersahabat   Atau ke rumah-rumah mewah Tempat gelas-gelas kopi berisi kenikmatan Dan pesta ekstasi digelar?   SuaraNya sapa mengundang Mari...ikutlah Aku!   Tubuh-tubuh kekar memilih makar Dari bulir-bulir Rahmat Yang telah dicurahkanNya   Banyak yang membetontak Sambil menyangsikan:Engkau siapa? Menutup gerbang jiwa dan raga   Memalak Tuhan Yang seharusnya merapat Di tahta hati nurani   Suara perutusan itu menerobos waktu Memanggil para pewarta Untuk mengayun langkahnya Ke ladang yang tak subur   Pergi ke rumah-rumah maksiat Yang menjual keringat dosa Merendahkan martabat kemanusiaan Dan Dia menantang: Beranikah kamu!   Di kolam-kolam sisi kehidupan Kegelapan melilit tanpa cinta Dan kemis...

METANOIA

Oleh: Agust G Thuru PadaMu kunci hidup atau mati Engkau masih mau menutup pintu Dan aku berdiang di unggun waktu Atau Engkau akan membuka lebar Seluas langit dan membiarkan aku terbang   Misteri ada pada cintaMu Yang sudah dialirkan Sepanjang aku menghitung waktu Membiarkan kehidupan fana Bersentuhan dengan nafas birahi Atau nyanyian Kudus di pintu surga   PadaMu aku berseru Pada kemarau yang tiba-tiba datang Mendera dan membiarkan jiwa terluka Lalu Engkau menghapus noda Dengan telapak tanganMu Mentahirkan kemanusiaanku   PadaMu sujud tobat menembus cintaMu Membiarkan air surgawi mengalir Membenam pada liang dosa Agar terhapus segala asa Dan aku kembali pada titahMu Belajar untuk bermetanoia Denpasar, 28 Mei 2019

DI PANTAI KUTA

Oleh: Agust G Thuru Di pantai Kuta napas mendesah Terbenam di butir pasir Bukit-bukit meta melambai sukma Mendaki ke puncak Sambil memejamkan mata   Ombak menjilat batu putih Yang lelah menjaring matahari Seusai meniduri pasir coklat Dan panah mata jalang Menyapu liar lekuk bidadari   Di pantai Kuta senja terpendam Merangkul angan pada pembaringan Melukai malam dahaga sepi Ah pantai Kuta di desah nafas Menggeram mengalahkan birahi Pantai Kuta, 26 Mei 2019

PUASA

Oleh: Agust G Thuru Ikatkan lidahmu Dengan temali firman Agar tidak melumur lumpur Pada sakral puasa   Kuncikan bibirmu Dengan gembok sabda Nabi Agar tidak menjadi liang terbuka Mengalirkan lahar amarah   Rekatkan jiwamu Dengan ayat-ayat suci Agar kemurkaan dilenyapkan Dan kebencian dihancurkan   Sebab puasa adalah kendali Meredam gelora nafsu Jalan pulang kepada sempurna Meski masih harus belajar hijrah Denpasar, 26 Mei 2019

DOA UNTUK TANAH AIR

Oleh: Agust G Thuru Tuhan yang penuh kasih Bangsa kami Indonesia Telah menunaikan kewajiban Memilih para wakil yang tangguh Untuk menyuarakan “suara kami” Menyuarakan suara politik kami Di tingkat kabupaten dan kota Di tingkat provinsi dan Indonesia   Kami mohon pada-Mu Jadikan mereka penebar semangat Yang menyatukan dan mendamaikan Yang adil dan penuh toleransi Menjadi penyejuk di mana ada konflik Penengah di tengah pertentangan Penghubung di kala ada jalan buntu Dan mampu berdiri di semua kelompok Menjadi sosok yang pantas diteladani   Kami mohon pada-Mu ya Tuhan Tiuplah api Roh Kudus-Mu Ke dalam hati dan jiwa raga mereka Agar hati dan pikiran mereka Menjadi tahta berdiamnya kebaikan Sehingga mereka mampu arif Menolak ajakan berbuat kejahatan Terutama kejahatan memperkaya diri Melalui tindakan koruspi   Tuhan Engkau tahu Bahwa kami telah berhasil Memilih presiden dan wakil presiden Untuk memimpin negeri kami ...

TUA

Oleh: Agust G Thuru Tua Terus meniup waktu Berlari ke ujung jalan Mendekat ke makam leluhur   Aku meresap embun cinta Yang masih terus meniris Dari mekar mawar kekasih Yang tetap setia   Tua Telah menghias perjalanan Mendekat ke batas senja Gerbang terbuka untuk jalan pulang   Aku menyerah padaMu Pada telapak cintaMu Jika hari ini ada mukjizat Aku sedang menikmati   Tua Setiap tahun selalu bertambah Aku sedang berlari ke batas waktu Suatu saat semua kata terkuburkan   Untuk hari ini Embun kasihMu terus meniris Menambahkan usia yang memanjang Di cintaMu aku bersujud Denpasar, 25 Mei 2019

JEJAK HITAMM

Oleh: Agust G Thuru Kau mengenakan jubah kebesaran Dengan banyak kantongnya Kau simpan potongan-potongan hatimu Yang tercabik-cabik taring nafsu Lalu kau muntahan lagi Di saat kau sudah mabuk   Kelelawar-kelelawar keluar pada senja Menyambutmu dengan cirit yang busuk Kelekatu-kelekatu menggiringmu Ke tengah bara api yang membakar Jubah kebesaranmu hangus terbakar Tapi kau tidak sadar karena sudah mabuk   Di ranting-ranting pohon kebenaran Berjuta Pipit menyerukan doa tobat Berharap engkau ikut merunduk kepala Dan kembali menjadi tuan yang sederhana Ternyata kau bukan saja sudah mabuk Tapi kau sudah benar-benar telah mati   Di bungkus jubah kebesaranmu Engkau tampak telanjang memalukan Di siang hari matahari menyemoohmu Dan berjuta bintang pada malam Khusuk melitania jejak-jejakmu Ternyata ada darah korban Di jejak hitammu Denpasar 20 Mei 2019 Pada Hari Kebangkitan Nasional

LIAR

Oleh: Agust G Thuru Engkau telah benar-benar liar Membantai pohon-pohon keadaban Mencabut akar-akar cinta Lalu kau tanam bibit-bibit murka Menebar benih-benih kezaliman Sambil teriak: Aku negarawan!   Kau makin liar saja Menjadi harimau menyeringai Mempertontonkan taring-taringnya Di taringmu itu Masih ada bekas darah Dari anak muda yang kau santap Mestinya kau belum lupa Atau kau sengaja lupa?   Di belantara Nusantara mana Kau sembunyikan tulang belulangnya Di kesunyian mana kau titip jasadnya Harap kau masih ingat Ketika kezaliman menyetubuhimu Dan kau menjadi setan yang buas   Sekarang engkau tetap liar Mengepal tangan dan siap perang Bukan dengan pecundang negara Tapi dengan kebuasan dirimu sendiri Di saat ambisimu kandas Dan kau menjadi kalap Masihkah kau negarawan? Denpasar, 17 Mei 2019

MATI RASA

Oleh: Agust G Thuru Di podium itu engkau berdiri Telanjang tanpa jiwa Berteriak antara taburan bunga Mengantarmu ke pemakaman Sebab engkau telah mati   Engkau meronta saat jasadmu Akan dikemas pada keranda Kau berteriak: Aku masih hidup! Dan burung-burung pemakan bangkai Mengerubungimu dalam nyanyian pesta   Engkau sudah mati rasa Meski napasmu bagai buih debur ombak Garang bagai muntahan lahar Dan matamu sedang melototi kebenaran Yang ingin engkau penggal Denpasar, 15 Mei 2019

TUHAN DI PANGGUNG POLITIK

Oleh: Agust G Thuru   Adakah Tuhan Berpolitik Oleh: Agust G Thuru Di kampung jauh di gunung Pesta demokrasi pemilu Kades digelar Calon-calon bermunculan Para pendukung berkotak-kotak Berjuang untuk menang Menyujud syukur pada Tuhan Meminta Tuhan ikut berpolitik Adakah Tuhan berpolitik?   Di Sebuah kota hiruk pikuk Pesta demokrasi Pemilu Walikota Calon-calon bermunculan Para pendukung juga berkotak-kotak Spanduk-spanduk bertebaran Slogan-slogan beraneka cita rasa Berjuang untuk menang Berteriak panggil Tuhan Ikut berkampanye di panggung demokrasi Adakah Tuhan berpolitik?   Di kabupaten beraneka ragam budaya Pesta demokrasi Pemilu Bupati Calon-calon bermunculan Para pendukung makin berkotak-kotak Kampanye memenuhi ruang publik Teriakan saling cemooh meluntur rasa Sentakan-sentakan nafas penuh amarah Berjuang untuk menang Berteriak panggil Tuhan Untuk ikut serta berkampanye Adakah Tuhan berpolitik?   Di provinsi ...

SARASWATI

Oleh: Agust G Thuru Akan aku hapus debu Pada halaman- halaman buku Yang lama melekat Ketika aku lebih suka bercinta Dengan buku-buku langit   Akan aku tulis puisi percintaan Pada helai-helai buku kehidupan Lalu kupersembahkan pada Sang Dewi Yang meniriskan ilmu pengetahuan Menjadi pahala kemanusiaan   Akan aku turut dalam syahdu Doa-doa penghormatan Padamu Dewi Saraswati Yang menenun ilmu kebajikan Pada setiap jalan hidup yang telah diretas Padangbay, 11 Mei 2019 Selamat Hari Saraswati

JALAN BERSAMA

Oleh: Agust G Thuru Jika yang kita ingin gapai Adalah keabadian Bukankah kita bisa jalan bersama Tanpa bicara perbedaan   Sebab di saat ada rasa berbeda Jalan bersama menjadi mati Kuntum cinta yang seharusnya mekar Mandul tak menghasilkan buah   Jika kita ingin damai Bentangkan rasa persaudaraan Bukan sekedar narasi semanis madu Tapi dengan nurani yang kokoh   Jalan bersama dalam keragaman Adalah mukjizat di setiap abad Berdamai dalam perbedaan Adalah kemenangan hari ini Denpasar, 10 Mei 2019

BERSULAM SAJA

Oleh: Agust G Thuru Bersulamlah sebelum pesta benar-benar usai Habiskan saja anggur di gelas Bersama-sama tanpa perlu berduka Tidak usah turun ke jalan Sebab bulan suci ini jangan dinajiskan Dengan teriakan-teriakan kedengkian    Bersulamlah sebelum panggung berpesta Dibongkar untuk dimuseumkan Habiskan saja bersama-sama Kue yang telah disediakan Sebab tanpa menjadi tuan Kamu pun bisa menanam kebajikan Di negeri yang katamu sangat dicintai   Berhentilah berdansa di atas kebohongan Sebab rakyat sudah paham Apa itu pengabdian tulus Dan apa pula perjuangan merebut kekuasaan Bersulam saja segala rasa Yang telah diseduh menjadi minuman penghangat Pada wadah yang sama: Indonesia! Denpasar, 9 Mei 2019

SUARA RASUL AWAM

Bersatulah para rasul awam Dari ujung timur dan ujung barat Dan dari ujung utara sampai ujung selatan Agar menjadi sekawanan domba Yang siap melawan ribuan harimau ganas Dan berani berteriak: Kami tidak takut   Bersatulah para rasul awam Menjadi suara yang terus bergema Di tengah Medan juang yang keras Di saat suara-suara yang menyobek nurani Akan seringkali menjadi sarapan Bahkan menjadi makan siang dan makan malam Yang tak punya nilai rasa Sebagai anak satu ciptaan   Di saat rasul awam membuka telinga Engkau akan mendengar celoteh memantik iman Sepadang kata berbau darah perang saudara Akan seringkali menjadi bara api Yang membakar nurani Mestikah kita mengasah parang Untuk berperang demi agama?   Suara rasul awam Adalah gema ribuan tahun Yang pernah membalur padang penuh belalang Dan teriakan mendebarkan: Bertobatlah! Meski taruhannya adalah nyawa Yang tak akan diperhitungkan Sebagai sesama Citra Allah   ...

CINTAMU TERUS BERNYALA

Oleh: Agust G Thuru Di tengah dunia yang penuh luka CintaMu terus mengalir Dari kerahiman ilahi Ya Tuhan pelita hidup kami Di tengah kegelapan Sinarilah kami dengan RohMu Agar hidup kami menjadi Rahmat Bagi sesama yang kami jumpai Pada hari baru ini Di tengah hidup kami di dunia Yang penuh pertentangan Hadirlah selalu ya Tuhan Untuk mengubah kebencian Menjadi cinta yang menyala-nyala Untuk memadamkan api permusuhan Menjadi  api cinta yang menghangatkan Tuhan Yesus kami tahu CintaMu terus bernyala di dunia Nyalakan api cinta dalam hati kami Agar semakin mampu Mencintai sesama kami. 07052019

WAE SUGI DI MALAPEDHO

Wae Sugi di Malapedho Buih ombak menulis rindu Pada batu hitam Di ranting kering pohon waru Masih adakah kain tenun Dan bekas tangan ibu Yang dulu kusangkutkan di dahannya?   Ombak itu tak berubah sejak dulu Tubuh yang meliuk-liuk itu Adalah tubuh anak kampung Yang tak malu telanjang Berdansa pada riak ombak Dengan pikiran yang tetap kudus   Wae Sugi selembar tasik Berkisah tentang kedamaian Setapak jalan cinta Menyimpan seribu kenangan Anak-anak pesisir Paupaga sampai Kelitei Seperti pelikan berhias bulu perindu Pernah sejenak singgah Dan menyandungkan lagu bercinta   Wae Sugi pada sepotong rindu Aku mengenang sejemput anak rambut Yang berkibar ditiup angin Dan di atas batu itu kita pernah berdiri Menghitung seluruh jejak yang tercipta Ah, semua itu sudah ada di masa lalu Tak mungkin kembali ke masa kini.*** Hotel Aston, 5 Mei 2019 Foto: Rm.Geradus Janga,Pr

KETIKA PESTA HAMPIR USAI

Oleh: Agust G Thuru Pesta sudah hampir usai Meski masih meninggalkan luka Luka karena irisan kata setajam sembilu Yang mengalir dari bibir yang sengaja lupa Atas titah kehormatan martabat kemanusiaan Lupa pada kehangatan cinta yang memanusiakan Yang sengaja membiarkan bejana persaudaraan Tak mesra lagi dalam kebersamaan Menikmati jamuan pada meja makan yang sama Meja makan INDONESIA   Pesta kali ini sungguh melelahkan Menghentak-hentakkan denyut jantung Mengalirkan sejuta kata sumpah serapah Memacu denyut nadi kemarahan tanpa takaran Melilit sekujur tubuh anak-anak bangsa Menyulam wajah menjadi ganas Hanya untuk mendapat kesempatan lebih besar Atas porsi hidangan yang disediakan Tak perduli siapa masih lapar bahkan terkapar Sebab soal makan sampai kenyang Sudah terlanjur menjadi tujuan segala perjuangan   Pesta kali ini menampilkan kisah buram Diksi-diksi yang tercipta telah menjadi mata tombak Untuk saling menikam ulu hati Nyaris ta...

DOA HARIAN 2

Oleh: Agust G Thuru Tuhan Yesus Dari kaki salibMu Doa-doa cinta kami panjatkan Karena kami mencintaiMu   Meski kami sering lemah Jatuh dalam dosa Namun kami percaya selalu Engkau penuh belas kasih   Tuhan Yesus kami mencintaiMu Ajarkan kami hari ini Mencintai sesama kami Bahkan kepada semua orang Yang bersalah kepada kami Tuhan Yesus dengar pinta kami 02052019