PUISI-PUISI SEPTEMBER 2020

 

Kemenangan Sejati

 

Bertarunglah

Tanpa perlu menggali lubang

Untuk saling menguburkan martabat

Karena setiap pertarungan

Ada saatnya untuk jedah

 

Jika kau pasang perangkap

Dan tidak berhasil menjebak

Orang akan mengingat  wajahmu

Kau akan ditertawakan

Ketika kau terpaksa menjadi munafik

 

Bertarunglah tanpa berperang

Sebab kemenangan sejati

Sudah ada yang menentukan

Dan tertulis di setiap sudut hati

Siapapun tak mampu menghapusnya

 

Jika kau mengacungkan belati

Sambil berteriak: Bunuh!

Pintu penjara sedang dikuakkan

Kereta  siap mengantarmu

Ke kehidupan tanpa kebebasan

 

Bertarunglah tanpa pedang

Tanpa sumpah serapah

Dan tanpa kata laknat

Kau akan dikenang

Dan didoakan

 

Denpasar,  10 09 2020

 

Guru

 

Berhentilah menjadi guru

Jika yang engkau ajarkan

Adalah ayat-ayat kebencian

Sebab dunia perlu pencerahan

Dengan bahasa  cinta

 

Berhentilah berbohong

Dengan dalil-dalil imajinasimu

Yang sangat menyesatkan

Sebab dunia perlu kehangatan

Untuk jalan hidup yang panjang

 

Berhentilah mengajar sesama

Jika yang engkau perjuangkan

Agar dirimu bisa dihormati

Apalagi dengan  cara  menjelekkan

Sesama yang berbeda paham denganmu

 

Berhentilah  mencari jalah ke surga

Dengan menebarkan ajaran sesat

Sebab jalan ke surga milik semua

Yang saling setia

Dan mau berdamai

 

Berhentilah menabur racun

Di ladang kita bersama

Agar benih-benih tetap tumbuh

Lalu berakar dan saling berbagi

Pada  setiap  musim

Yang pasti silih berganti

 

Denpasar, 1109 2020

 

****

 

Anggur Cinta

 

Setiap kata yang terucap

Adalah anggur yang mengalir

Dari kedalaman hati

Ditakar berapa kuatnya katamu

Mampu mengadabkan kehidupan

 

Kata-kata penuh kebencian

Adalah anggur asam

Mengalir dari jiwa yang luka

Ucapan kasih adalah anggur cinta

Mengalir dari jiwa yang terberkati

 

Ketika kata menjadi pelangi

Makna kehidupan kian meresap

Semuanya menjelma serba indah

Melilit setiap hati

Yang tak pernah merasa berbeda

 

Setiap kata yang berakhlak

Adalah tetesan anggur cinta

Yang mengalir memberi nikmat

Menyusup ke segala sudut nurani

Mengagungkan apa arti keberagaman

 

Maka berhentilah meracuni hati sesama

Dengan anggur asam penuh kebohongan

Gembok mulutmu dengan anggur cinta

Pelihara hatimu dengan keyakinan

Bahwa kau adalah berkat bagi sesama

 

 

Denpasar, 12092020

 

****

 

Politik Pengampunan

 

Jika politik adalah jalan pembebasan

Dari kemiskinan

Dari kemalangan

Dari ketertinggalan

Maka politik dapat menjadi sakramen

 

Jika politik adalah sakramen

Maka politik harus  bersih

Dari nafsu kemarahan

Dari desakan penuh kebencian

Dari riak-riak saling merendahkan

 

Jika politik kau taburi bara api

Untuk merusak citra sesama

Menghanguskan persaudaraan

Memorak porandakan kerukunan

Maka kau peniup api neraka

 

Jika politik kau bumbui

Dengan kelicikan dan tipu daya

Maka kau menanam kebohongan

Untuk diwariskan dan merusak

Generasi berikutnya

   

Jika politik adalah jalan keselamatan

Maka jadikan bibirmu

Untuk mengucapkan kata cinta

Selama permainan dimulai sampai usai

Supaya  kalian tidak saling melukai

 

 

Denpasar, 13092020

 

 

****

 

Menghakimi

 

 

Berjuta nyawa meregang

Darahnya tercurah sia-sia

Napasnya pun berakhir

Di tangan para penjegal

Yang kehausan

 

Kebencian menggemuruh

Menghakimi sesama

Dengan hukum rimba raya

Sambil  menyoraki nama Tuhan

Membuka jalan mulus ke surga

 

Berjuta nyawa anak bangsa

Berakhir di tangan sesamanya

Yang pandai membungkus dosa

Kaum munafik menjelma kudus

Membela Tuhan dengan pembunuhan

 

Entah di mana 

Rasa kemanusiaan ditahtakan

Sebab setiap daraskan doa

Sambil menghunus pedang

Mengajak Tuhan membunuh ciptaan-Nya

 

Penghakiman penuh darah

Tanpa merasa salah

Atasnamakan Tuhan

Sedangkan Dia tak berpihak

Juga tak perlu dibela

 

 

14092020

 

****

 

Ibu dan Anak

 

Ibu adalah pohon

Yang tumbuh

Lalu berbunga

Dan sesudah itu berbuah

Lalu pada saatnya mati

 

Ibu adalah pohon kehidupan

Yang mengalirkan air susu

Dari cabang dan rantingnya

Membiarkan cintanya

Meresap pada daun hijau

Ibu tunaskan benih-benih

Merawatnya untuk tumbuh

Menjadikan kehidupan baru

Membiarkan menjadi pribadi

Yang mandiri

 

Ibu adalah rahim

Tempat semaikan bibit

Melahirkan anak-anak

Tanpa  ratapan

Selain air mata sukacita

 

Katakan pada dunia

Ibu adalah kehidupan

Ia cinta yang tak mati

Selalu ada selamanya

Menjiwa pada raga

 

15092020

 

****

 

Kata Berhikmat

 

Satu kata fitnah terucap

Sama tajam

Dengan seribu pisau

Menyayat jiwa

Melukai hati

 

Segala ucapan cacian

Yang meluap-luap

Setajam mata tombak

Menusuk sukma

Menoreh noktah

 

Satu kata berhikmat

Menghidupkan persaudaraan

Menumbuhkan pengharapan

Menyuburkan belaskasih

Mengubah perbedaan jadi kekuatan

 

Satu kata cinta

Menyapu kabut kelam

Menyingkap malam gelap

Menghadirkan  kasih

Menyatukan  dunia

 

Kata berhikmat

Memanusiakan manusia

Merekat perbedaan

Menjadi peradaban

Yang penuh kehangatan

 

Denpasar, 16092020

 

****

 

Air Mata Sesama

 

Masih ada musim kabut

Dan badai pun belum berlalu

Jangan pernah  menangis

Teruslah tengadah ke langit

Temukan jawaban doa

 

Sebab doa tak akan mandul

Jadikan  hati  benteng perkasa

Menghadang ganas hempasan badai

Untuk selalu menjadi pemenang

Di sepanjang  jalan kehidupan

 

Kabut ini masih terus melilit

Tak pasti  kapan berakhir

Sedangkan air mata sesama

Adalah tirisan embun surgawi

Yang meminta pengabdian

 

Prahara ini masih memanjang

Dengan hiasan air mata duka

Yang harus terus ditampung

Dengan telapak tangan

Dengan pelayanan tanpa batas

 

Kabut ini entah kapan berakhir

Tanpa tahu batas waktunya

Tapi jangan menyerah

Sebab doa itu dasyat

Punya daya untuk menghalaunya

 

Denpasar, 17092020

 

****

 

Jika Tanpa Perempuan

 

Jika tanpa perempuan

Aku dan kau

Cuma butir debu

Onggokan batu

Tanpa kehidupan

 

Jika tanpa perempuan

Bumi dalam sunyi

Tak ada tangis kelahiran

Juga tanpa ratapan

Pada kematian

 

Jika tanpa perempuan

Tak ada kehidupan

Sebab gerbang kelahiran

Tertutup rapat

Tak akan terkuak

 

Jika tanpa perempuan

Tak ada benih baru

Yang bisa ditaburkan

Generasi  terputus

Perputaran sumbu terhenti

 

Jika  tanpa perempuan

Kehidupan menjadi tak sempurna

Kesepian melilit jiwa raga

Tak bisa saling melengkapi

Masihkah kau melukainya?

 

Denpasar, 18092020

 

****

 

Di Saat Kemarau

 

Di saat kemarau seperti ini

Masih adakah kesempatan

Untuk berbagi mata air cinta

Saling membasuh

Tumbuhkan benih harapan

 

Di saat kemarau seperti ini

Ilalang pun kering kerontang

Sungai-sungai di padang

Satu persatu mengering

Air mata kian menipis

 

Di saat  kemarau seperti ini

Ada penantian panjang

Tanpa tanda-tanda kepastian

Adakah embun kasih

Bersulam melepas dahaga?

 

Di saat kemarau seperti ini

Kemarau ini masih ada

mengundang doa-doa

untuk pembebasan

 

Denpasar, 19092020

 

****

 

Adil Itu Sederhana

 

Adil itu

bukan soal mayoritas

atau minoritas

bukan!

 

Adil itu

bukan soal kau berderajat

atau jelata

bukan!

 

Adil  itu sederhana

kalau kau tidak merantai

kebebasan yang lain

demi dirimu sendiri

 

Denpasar, 20092020

 

****

 

Hukum Rimba

 

Singa liar di padang

memburu  mangsa

menyeringai taringnya

mendengus nafsu buas

dalam kisah pembunuhan rimba

 

Tanpa hukum

tanpa air  mata

tanpa duka lara

 

Di panggung kemanusiaan

setiap orang adalah petarung

yang bisa berubah biadab

jiwa  yang menjelma liar

amarah yang memburu dahaga

mabuk melahap darah sesama

 

Sedangkan hukum telah membisu

Air  matatak lagi berharga

Duka lara yang terabaikan

 

Denpasar, 21092020

 

****

Sahabat Sejati

 

Sahabat sejati

Tak pernah menghitung

Berapa banyak memberi

Dan berapa telah menerima

Sebab ia melupakannya

 

Sahabat sejati

Tak menakar berapa kebaikan

Gelisah pada kelemahan

 

Sahabat sejati

Berbagi dari kedalaman  hati

Bahkan dari kekurangannya

Bila dukacita bersama menangis

Jika sukacita bersama bernyanyi

 

Sahabat  sejati

Tidak saling menyakiti

Tetapi saling menghidupkan

 

Denpasar, 22092020

 

****

 

Menyembuhkan  Luka

 

Jiwa-jiwa yang terkapar

pada alas kaki kekar

tengada ke langit

tak berdaya

penuh luka

 

Tuhan mendengar doa

yang mengalir dari liang jiwa

namun ketamakan menelannya

 

Tubuh-tubuh yang tersandera

pada sekat-sekat buram

menyerah pada nasib

suara yang hampir patah

dibungkam kebencian

Sampai kapan kau menyayat raga

anak-anak sesama ciptaan

dengan pedang doa berlumuran darah?

 

Ini waktunya kita kembali

membalut luka-luka sejarah

dengan cinta yang sempurna

jangan biarkan jalan kematian

membara lagi untuk kesekian kalinya

 

Denpasar, 23092020

 

****

 

Tentang Cemasmu

 

 

Telah engkau panahkan kata

cemasmu menggemuruh

ada  tanya tertitip

pada seutas benang kusut

kau mimpi di kelam malam

gelap pada kelopak matamu

 

Teriakmu deru angin

menghapus kebenaran

lidahmu bara pengkhianatan

 

Kata setajam  anak panah

melukai  kejujuran

percikan liurmu penuh bisa

mencemar  ketulusan pengabdi

kau tabur benih kebohongan

sambil menari di kening jelata

 

Jika cemasmu tulus

soal namamu didoakan

tapi kau cuma bercitra diri

 

Denpasar, 24092020

 

****

 

Pengakuan

 

 

Engkau hembuskan bau mulut

Pada ruang bumi dan langit

Berderet kata-kata najis

Telah engkau muntahkan

Menusuk hatinya yang putih

 

Dia diam

Tanpa kata

Tak meradang

 

Kau tiupkan asap dengki

Pada jalan pengabdiannya

Mengumpulkan puntung tersesat

Menjadi tumpukan unggun

Membakar  ketulusan hatinya

 

Dia bintang

Yang bersinar

Karena didoakan rakyat

 

Kutunggu saatnya tiba

Engkau menghapus air tobat

Menepuk dada penyesalan

Menulis litani pengakuan

Bersyahadat: Dia yang terbaik!

 

Denpasar, 25092020

 

****

 

Anak

 

Anak-anak buah rahim

Bertarung di bawah kolong langit

Ciptakan jejak

Lukisan hitam

Pada kanvas buram

 

Mereka memajang nafas

Pada tonggak rapuh

Menunggu  hari pembebasan

 

Anak-anak  yang terpasung

Menggeliat mencari jalan sendiri

Berpijak pada kerikil tajam

Membiarkan takdir menenun hidupnya

Sebab mereka sudah tak punya cita-cita

 

Denpasar, 26092020

 

****

 

Menunggumu Berubah

 

Tentang hidupmu aku tak mengusik

Sebab engkau bebas

Merancang menara hitam atau putih

Menjelajah di ruang terang atau gelap

Engkau bebas di antara ragam ciptaan

 

Yang aku sesalkan

Adalah lidahmu yang tak terkendali

Mulutmu menjadi liang terbuka

Tempat engkau muntahkan

Segala remah-remah kotor dan jorok

 

Namun kau perlu tahu

Di setiap waktu selalu ada doa untukmu

Menemukan jalan perubahan

Agar kedengkian yang merasukmu

Menjadi butir-butir kasih dan perdamaian

 

Denpasar, 27092020

 

****

 

Kuasa Jabatan

 

Kuasa jabatan

adalah amanat nurani rakyat

dari kelas terhormat

sampai para jelata

titipan nafas mereka

untuk engkau perjuangkan

 

Engkau bukan terbesar

bahkan bukan terhormat

sebab  takdirmu melayani

 

Yang rakyat inginkan

jalan pengabdianmu tak bercela 

sebab di setiap tanjakan dan kelokan

selalu ada pundi-pundi milik rakyat

yang tak boleh dikorupsi

 

Denpasar, 28092020

 

****

 

Jika Hanya Sekedar Hidup

 

Jika hidup hanya sekedar

memainkan tarian palsu

pada  sepanjang musim

sampai ekstase

mabuk dan mati rasa

kembalilah ke rahim ibu

dan basulah wajahmu

dengan air mata dukanya

 

Sebab hidup telah sia-sia

dan perlu waktu lebih panjang

untuk menanam kembali 

benih-benih cinta yang tercabut

 

Jika hidup hanya sekedar

melantun doa pertobatan

seusai lelah bertualang

untuk kemudian jatuh lagi

di pusaran  kepalsuan

tengoklah  ke lubuk hati terdalam

mungkin akan  temukan

tangan terulur untuk membebaskan

 

Denpasar, 29092020

 

****

Menuju Subuh Berdarah

 

Di telapak tangan anak bangsa

abadi tertulis: 30 September!

degup jantung memacu waktu

menuju malam sampai subuh

bau amis darah pembantaian

masih terasa merasuk jiwa

 

Pengkhianatan

drama pembunuhan

entah siapa dalangnya

 

Di telapak kaki rakyat jelata

goresan abadi: September kelabu!

air mata kaum tak berdosa

tak mampu padamkan bara marah

sebab 30 September sampai subuh

drama pembantaian berlanjut

darah jelata tak berharga lagi

 

Denpasar, 30092020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU